About Finding a Place and Figuring Things Out.

yasmijn:

Post university life is confusing, as we have to match expectations with reality and things that did not go as planned. We befriend disappointment, and a daily dose of ‘Why am I not good enough’ thoughts are sure not the best food for thoughts. People started achieving things and one by one they seem to get everything figured out; a job, a partner, a school, a scholarship, you name it.

It is sad that other people’s happiness could sometimes be the source of our sorrow, a friendly reminder that we might not be as good as them. Small information that adds up to the anger we keep inside our heart, underneath the ‘I’m okay’s and ‘I’ll figure things out’. 

We need reasons. We need to find out why things are the way they are instead of how we want them to be. We need to figure out what and where we did wrong so we could accept it and move on and be the better person. After all, everybody has got his/her own fights and what we see in the outside might not be what really happened behind closed doors. 

Growing up is about making peace with our failures and our deflated dreams, of postponed graduate school and revised motivational letters and trying to not be embarrassed about asking for one recommendation letter after another. Growing up is about creating a narration, a story of how we got our future figured out so they would believe that we could make it happen, but deep down inside we are as unsure as them.

I believe that nobody really knows where life would take them. 

A SUPERTALK FROM THE SUPERMENTORS

Alhamdulillah, I’m so grateful for having the chance to join the sharing time from 4 supermentors at once : the president of World Bank, Dr. Jim Yong Kim; our favourite ministry, Ibu Sri Mulyani; one gorgeous and beautiful Maudy Ayunda; and the man behind this event, Mr. Dino Patti Djalal.

I’m already fall in love with what and how Ibu Sri Mulyani shared and inspired lastnight. She was awesome, she always does. She talked about ‘APBN’, tax, economic condition of our country, and what WE can do then. Yes, it is our chance and our responsibility at once. Quoted from Mr. Jim : “you are so lucky to have Sri Mulyani”. Yes, we do! Stay strong in being the caretaker of our economy, Bu. We support you 💕

Another remarkable talk I’m so excited of is Mr. Jim Yong Kim. He talked from global perspective about Indonesia health and education priority and gave some examples from other country. He was truely WOW (idk how a word describe the smart, dedicated, meritorious, experienced leader of world bank).

Last but not least, we had a talk from bachelor of philosophy, politics, and economics (PPE) from Oxford, Maudy Ayunda. This talented girl tried to reflect what Ibu Ani and Mr. Jim have told to us as a global shapers. She encouraged us to take care of our country with our innovation and creativity.


In frame: me with my supergirls, Titis and Ipeh. Thankyou for coming to my simple room anyway! 😘😘

Credit to the hashtag which covers a frontyard #iykwim 😂

Al Aqsha; The Final Stage

edgarhamas:

@edgarhamas

Kalau kamu suka permainan game, dan pasti setidaknya pernah memainkan game walaupun sekali, kamu akan tahu bahwa dalam setiap permainan akan selalu ada final stage, level akhir permainan dimana kamu akan melawan musuh terbesar untuk mencapai poin tertinggi. Jika lawan terbesar itu sudah kamu kalahkan, berarti kamu secara otomatis adalah pemenang game tersebut.

Nah, ketahui juga teman-teman, dunia ini tidak berjalan secara datar tanpa stage pertarungan, bukan sekedar tempat numpang dengan taman-taman bunga, riak air sungai dan canda tawa. Dunia ini, adalah a great game, dan bagi umat Islam secara khusus dan umat manusia secara umum, Al Aqsha adalah the final stagenya.

Al Aqsha, berulangkali disebut dalam Al Quran dan hadits, juga literatur sejarah sebagai latar akhir pertarungan besar antara kebenaran dan kejahatan. Disanalah final stage ketika kelak Umat Islam hampir mencapai puncak kebangkitannya kembali, dan Al Aqsha menjadi mahkota terakhir yang mesti direbut dari yahudi untuk membebaskan dunia dari kezaliman.

“Tidak akan hadir hari kiamat, sampai umat Islam memerangi yahudi”, sabda Rasulullah, “hingga berkata pohon dan batu; wahai muslim! Ada yahudi di belakangku, perangilah ia!”, kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohonnya bangsa yahudi.

Mengapa Al Aqsha bergitu berharga? Dan mengapa harus ia yang menjadi simbol yang diperebutkan banyak kekuatan di dunia? Jawabannya karena “siapa yang menguasai Palestina, maka ia akan menguasai dunia”, kata Syaikh Ali Muqbil sebagaimana juga dikatakan oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.

Menyelamatkan Al Aqsha adalah menyelamatkan dunia. Penjahahan yang terjadi atas Al Aqsha itulah juga bermakna penjajahan atas dunia. Jika merdeka Al Aqsha merdekalah dunia, jika terkungkung Al Aqsha maka terkungkunglah dunia pula dalam kepalsuan.

Itulah mengapa suatu hari khalifah Abdul Malik bin Marwan ditanya, “wahai Amiral Mukminin, mengapa Qubbah As Sakhrah kau tulis di sekelilingnya dengan surat Yasin?” Maka ia menjawab, “Sebagaimana Yasin adalah jantung Al Quran, maka Al Aqsha adalah jantung umat Islam!”

Jika jantungnya selalu kita bela dan bertekad kita selamatkan, maka jangan takut masa depan, jangan khawatir zaman baru milik siapa, sebab dengan membelanya berarti kita sedang membuat jaminan sebuah hari baru ketika keadilan dan kebenaran jadi tuannya. Selamat membela Al Aqsha, masjid yang dibela Rasulullah, yang dimenangkan oleh Umar, diperjuangkan Nuruddin Zanki, dibebaskan kembali oleh Shalahuddin. Selanjutnya kamu, saatnya melalui semua stage, menuju Al Aqsha, our final stage!

Tenang, Ujian Ini Hanya Sebentar!

novieocktavia:

Tenang, ujian ini hanya sebentar! Dunia hanya sementara, maka semua ujian dan apa-apa yang kita rasakan sekarang ini sejatinya juga hanya sementara. Kita tak akan bahagia selamanya, seperti juga kita yang tak akan sedih selamanya. Kebahagiaan dan kesedihan itu sejatinya adalah sama, sama-sama ujian yang menguji keimanan kita. Tidak ada satu orangpun yang mengaku beriman tanpa diberi ujian. Tidak ada, sayang!

Tenang, ujian ini hanya sebentar! Semua bukan karena Allah tak cinta. Bukan! Allah tak sedikit pun mencabut kecintaannya kepada kita. Hanya saja, bentuk cinta Allah berbeda dengan bentuk-bentuk cinta manusia. Siapa sangka bahwa ternyata kesempitan, kesulitan, ketakutan dan kebingungan kita selama ini adalah juga bentuk cinta-Nya? Semua karena Dia ingin semua ujian itu tuntas habis di dunia, hingga tak lagi berat kita memikulnya kelak di akhirat.

Tenang, ujian ini hanya sebentar! Dunia dan keseharian yang kita jalani memang bukan tempat peristirahatan. Sebaliknya, dunia ini adalah tempat berjuang. Berjuang untuk apa? Tentunya untuk membuktikan ketaatan kepada-Nya. Bersemangatlah, perjuangan ini tak akan bisa kita menangkan tanpa bersandar kepada-Nya saja.

Tenang, ujian ini hanya sebentar! Semoga Allah memudahkan kita untuk meneguhkan keimanan dalam setiap keadaan. Kuat ya, ada Allah 🙂

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai