
[TASMI BERSANAD]
Sebelum saya terkapar dan tepar, alhamdulillah masih sempet dateng ke Tasmi yang diadain Ustmani di Global Islamic School hari ini.
I’m saying that it was….splendid.
Megah dalam rasa.
Diawali dengan tasmi bareng-bareng juz 30 dan 9, nuansanya syahdu sekali. Dilanjutkan cerita dari Ustadzah Farah Abdah, hafidzah penerima sanad ke-30. Masya Allah, adem sekali liat beliau. Tadi sempet salaman juga lagi. Aaak. Beliau cerita keutamaan kita mempelajari Al-Qur’an, salah satunya sebuah Hadist yang artinya:
“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari kitab Allah kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat aserta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan (malaikat) di sisi-Nya” HR. Muslim
Kata beliau, mempelajari Al-Qur’an itu untuk seumur hidup. Bukan hanya sebatas menghafal sampai 30 juz misalnya. Kemudian gimana kita bisa membentuk keluarga Qur’ani. Mempersiapkan generasi yang hatinya memegang teguh Al-Qur’an, lalu menjalani profesi apapun di dunia ini. Sampai menetes rasanya air mata, mendengar penuturan beliau yang sambil berkaca-kaca.
Sesi selanjutnya dari Tasmi diisi oleh Ustadzah Nurjannah Hulwani. Beliau ini dari Adara Relief Internasional. Cerita beliau tentang Rohingya menyentuh sekali. Bagaimana kita bisa diam saja melihat saudara muslim kita di Rohingnya diperlakukan keji, dibunuh, dibantai, dan disiksa. Tak pantas rasanya kita yang masih bisa makan enak, hidup nyaman, tentram, aman kalo nggak peduli. Minimal kita bisa mengirim doa, lebih baik lagi kalau ikut berdonasi. Ustadzah Nurjannah sampai berlinang air mata saat menceritakan kondisi pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh.
Beliau juga cerita pengalamannya membantu Palestina. Ibaratnya Palestina itu jantung perjuangan Islam. Jangan sampai kita berhenti membantu palestina walaupun saat ini kondisinya terus membaik, kita tetap harus membantu.
Di Gaza, ada peraturan 1 rumah, 1 hafidz, 1 syuhada. Dua ribu penduduk Gaza ini sangat kuat, penghafal Al-Qur’an ada di sana dan bahkan sejak kecil udah pada hafal. Duh, apalah saya ini, malu rasanya sama anak-anak di Gaza yang sudah hafidz dan Al-Qur’an tertancap kuat di dada mereka.
Semoga ada yang bisa dipetik dari tulisan ini. 🙂