
See the wide world around at Universitas Indonesia

See the wide world around at Universitas Indonesia
Rintik hujan memberikan melodi kedamaian yang terdengar merdu. Percikan-percikannya kadangkala membasahi alas kaki manusia yang mencoba menerjangnya.
Sudah sejak sebulan lalu aspal-aspal panas terlindas kendaraan-kendaraan ini semakin sering tersentuh air hujan. Terkadang ada genangan di pinggiran jalan yang bisa saja memberikan sensasi percikan yang menyebalkan. Ini sudah menjadi kewajaran, sudah fitrah alam ketika penghujung tahun seperti ini hujan menjadi sahabat baru para manusia. Sebuah payung pun tak lupa mengisi ruang kosong tas ketika hendak pergi.
Inilah kota Jakarta, kota yang sudah sangat akrab dengan hujan yang tak begitu ramah pada makhluk-makhluk yang ada di sini. Atau mungkin bukan salah hujan, makhluk-makhluk itu yang tak tau diri. Mereka tak memberikan ruang untuk bersembunyi atau bahkan hanya untuk sekedar bernafas bagi sang hujan. Ah, mengapa jadi membicarakan hujan. Eh, tapi emang sih, dari dulu hujan menjadi teman favoritku. Padanya aku berhutang budi. Setiap kali ia datang aku selalu membuatnya kerepotan. Ya, bagaikan seorang pak pos, aku selalu menitipkan untaian doa padanya. Untaian doa untuk orang-orang terkasih yang berada nun jauh disana. Sstt, kata orang malaikat turun ke bumi bersama turunnya hujan. Makanya aku selalu menitipkan doa-doa itu pada hujan. Berharap malaikat pun ikut meng-amininya.
Jakarta, Desember 2013.
Empat ratus delapan puluh empat km. Sejauh itulah jarak yang harus ku tempuh untuk sebuah bangku hitam. Bangku itu kadang menyesakkan. Penat. Lelah. Ah, aku butuh engkau. Ibu. Sosok wanita dengan senyum termanis. Seorang wanita dengan hati terlembut. Dan juga engkau, ayah. Sosok lelaki perkasa pelindung kami, anak-anak manja.
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
–Tere Liye, novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”

Ada Mie Djogja KULONPROGO di mall PGC Cililitan #bangga jadi anak Kulon Progo, hahaha
Rame loh, mienya enak #recommended, hehe
I miss mom more than what she feels and she knows how:’)

Yesterday’s flood [04/01], Otista Raya, 300 m from campus.