Btw, ini foto anak burung Emu yang dijadikan lambang negara Australia karena hewan ini engga bisa mundur, cuma bisa maju 🙂
Kalimat itu tertulis sebagai penutup di sudut kanan sebuah postcard yang dikirim oleh seseorang yang saat ini sedang tinggal dan berjuang di Canberra. Pada halaman depan lembar postcard itu, terdapat foto seekor burung dengan telur-telurnya yang berwarna biru. Lucu sekali! Tak sekedar lucu, ternyata burung ini juga filosofis: ia tak bisa mundur dan hanya bisa maju. Kalau dipikir-pikir, for some reasons, burung Emu ini lebih keren daripada kita sebagai manusia yang suka ‘mundur’, ya?
Dalam perjalanan kehidupan sampai dengan hari ini, rasanya mustahil jika kita tidak pernah memperjuangkan apapun, sama sekali. Meski berbeda-beda, setiap kita pasti pernah berjuang, bukan? Tentu saja! Dari perjuangan-perjuangan itu, baik yang telah kita menangkan atau yang masih kita jalani, kita tentu bersepakat bahwa setiap perjuangan tidaklah mudah. Perjalanannya yang tak selalu lancar dan bahkan banyak terjal dan mendakinya, ditambah dengan stabilitas iman dan semangat kita yang mudah sekali turun dan naiknya, entah bagaimana memang menjadi penggoda ulung yang membuat keinginan untuk mundur dari perjuangan terbersit di benak kita.
Bagaimana pun, selalu ada harga yang harus dibayar pada setiap perjuangan. Kita menyertai perjuangan dengan banyak hal, entah itu waktu, perasaan, tenaga, atau bahkan kesempatan. Tak mudah, hingga rasanya seluruh lelah, bosan, buntu, merasa tidak mampu, dan perasaan-perasaan tak berdaya lainnya seolah memperbolehkan kita untuk memilih mundur dan menghentikan sejauh apapun perjuangan yang telah dimulai, padahal kenyataannya sebaliknya. Pernahkah kamu merasakannya?
There’s no point of return. Begitulah nasehat yang sering diulang-ulang dalam berbagai kesempatan oleh seorang psikolog senior yang mengajar saya di kelas Psikologi Militer. Setali tiga uang dengan filosofi burung Emu, nasehat itu juga bermakna sama: jangan mundur dari perjuangan dan hal baik apapun yang telah dimulai, meski mundur lebih mudah untuk dilakukan, meski berjuang akan melelahkan. Melelahkan? Tentu saja, sebab perjalanan berjuang tak pernah sembarangan.
Lalu, bagaimana agar kita tak mudah mundur dari sebuah perjuangan?
Sebagaimana kita mengetahui bahwa setiap diri dan setiap hati selalu ada dalam genggaman-Nya, maka satu-satunya cara pertama dan utama yang bisa kita lakukan adalah meminta kekuatan berjuang itu pada Yang Maha Memampukan. Kita ini lemah dan tak berdaya tanpa pertolongan-Nya! Kabar baiknya, tak sulit bagi-Nya untuk memudahkan setiap niat baik, yaitu niat-niat tulus untuk mewujudkan kebaikan atas nama pengabdian dan ibadah kepada-Nya.
Ayolaaah, mundur itu bukan pilihan! Jika kita yakin bahwa akhir perjuangan ini akan baik dan menumbuhkan, meluaskan kebermanfaatan, dan menguatkan iman dalam genggaman, mengapa memilih mundur sekarang saat kemudahan mungkin sudah tak jauh lagi jaraknya? Seperti burung Emu di Australia sana, kita pun bisa menjalani setiap perjuangan dengan cara yang mengagumkan: tidak bisa mundur, hanya bisa maju.
Selamat berjuang! Semoga Allah memudahkan setiap apa yang sedang diperjuangkan, yang semoga semuanya akan menjadi tabungan-tabungan amal pemberat timbangan kanan. Baarakallahu fiik :”)
Selamat berjuang, meski hanya Allah SWT yang tau perjuanganmu itu. Dan cukup Allah SWT yang Membantu. Selamat berjuang untuk yang jauh di sana, yang diam-diam maupun yang terang-terangan. Teriring doaku dari sini, terus, teruslah melaju.