novieocktavia:

Perantauan dan Pertanyaan Kapan Pulang

Menanyakan kapan pulang kepada siapapun yang sedang berjuang di perantauan perlulah berhati-hati. Sebab bagi mereka, pertanyaan itu bisa berubah menjadi dua mata pisau: di satu sisi merasa bahagia sebab ternyata ada orang lain yang memerhatikan dan merindukannya pulang, tapi di sisi lain bisa menjadi ujung tombak risau sebab mungkin hatinya sedang rindu pada sesuatu yang ditinggalkannya di tanah kelahiran.

Pulang, dalam sempit atau luasnya pemaknaan, tentu tak pernah menjadi sederhana bagi mereka yang memendam rindu pada segala hal yang ditinggalkan. Pun bagi yang dititipi rindu, terpisah, dan seolah ditinggalkan, kata pulang entah sejak kapan menjadi tak biasa hingga pertanyaan kapan pulang seringnya keluar begitu saja. Satu hal, mungkin itu tersebab ekspresi rindu yang entah bagaimana menceritakannya. Tapi, bagaimana pun, lingkaran ukhuwah yang melebar seiring meluasnya jarak dan aktivitas tak boleh menjadi alasan kesedihan berkepanjangan

Bagi siapapun yang sedang dalam perjuangan di tanah rantau yang jauhnya terpisah laut, samudera, dan zona-zona waktu, selamat berjuang! Terima kasih telah memenangkan setiap kerumitan dan kesulitan dengan tetap bertahan dalam kebaikan, meski tertatih, meski suatu ketika tak ada yang bisa dilakukan selain berjalan pelan-pelan sambil mengobati luka yang darahnya sedikit sulit untuk dihentikan. Semoga Allah senantiasa meringankan langkah-langkahmu dan menggembirakanmu dengan sebaik-baik penjagaan. Soal pulang, tak perlu risau, titipkan pada Allah apa-apa yang ditinggalkan, pun apa-apa yang belum tergapai di masa depan.

Bagi siapapun yang sedang merasa jauh dari orang-orang tersayang sebab terpisah perbedaan jalan berjuang, selamat melangitkan doa-doa kebaikan! Terima kasih telah berbaik sangka kepada sesama manusia dan juga kepada Sang Pencipta dengan berpikir bahwa selama bersama-Nya semua akan baik-baik saja. Semoga Allah juga memudahkan setiap perjuanganmu dalam kebaikan, sebab setiap orang sejatinya tengah berada dalam jalur berjuangnya sendiri-sendiri. Soal pertemuan, tak perlu risau dengan terus-menerus bertanya kapan pulang kepada yang sedang berjuang, serahkan saja pada Allah apa-apa yang tak mampu kita urus dalam genggaman.

Salam (untuk dan) dari belahan dunia yang sedang mencercapi malam, meski mungkin disana malam hampir saja berpamitan atau bahkan matahari sedang bersiap untuk meninggi pelan-pelan. Selamat berjuang, atas seizin-Nya insyaAllah sebentar lagi sampai :”)

_____

Picture: Pinterest

*out of words :“)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai