#1 WARTEG

ziahusnia:

We don’t meet people by accident. 

Sore tadi
saya diajak ngobrol oleh Ibu Warteg langganan saya. Ngobrolnya ya gitu, seperti
selayaknya perempuan ngobrol, ngalor ngidul ga berarah. Bahasnya kesana kemari.
Tapi sebagai seorang yang memegang paham the
power of
ngobrol, ya saya lanjutin. Hingga kami sampai ke pembicaraan yang
dari sana saya dapat pelajaran.

Ibu
Warteg cerita tentang anak sulungnya yang sedang kuliah di ITB. Ibunya cerita
tentang gimana dia melihat langsung anaknya bekerja keras sejak lama untuk bisa kuliah di
kampus yang diinginkan. Sampai saat dimana si anak diterima dan…. Ibu Warteg bingung. Suaminya sudah lama meninggal dan dia hanya jualan makanan keliling.
Gak tahu darimana dia bisa membiayai anaknya kuliah.

“Anak saya anak baik, mbak. Saat dia diterima
di ITB, dia juga langsung nyari kesempatan kuliah di tempat lain. Yang gratis. Supaya
ibunya ga kesusahan katanya.”

Saya diam
dan hanya mengangguk setelah mendengar cerita beliau. Mau minta lanjut tapi
takut ibunya sedih. Serba salah. Entah ini yang bercerita yang memang influencer atau karena pendengarnya saya,
cerita ini bikin penasaran.

“Tapi ibu
gak mau usaha dia kerja keras belajar kehalang sama ibu, mbak. Akhirnya ibu
izinkan dia kuliah di kampus yang dia pengen. Setelah nekat itulah baru ibu dapat
berita kalau anak Ibu bisa ajukan beasiswa supaya biaya kuliah gratis dan
bahkan dia bisa dapat uang saku. Telat ibu dapat infonya.”

Wah, makin tertariklah saya sama cerita Ibu
Warteg ini.

“Dia sekarang lagi berjuang, mbak. Gak mudah
dia bertahan kuliah disana. Dia nyewa satu rumah untuk 20 orang karena kalau
kos nanti harganya katanya bisa mahal. Pas ibu bilang mau jenguk dia, dia
cegah. Katanya malu sama Ibu karena tempat tinggal dia kecil banget. Dia juga sering
manfaatin kesempatan atau voucher makan gratis. Pas kemarin dia sempet sakit
dua minggu tanpa sepengetahuan ibu. Saat dia sembuh barulah dia kabari ibu. Ibu
marahin dia, mbak. Tapi ibu jadinya cuman bisa diam saat dia bilang katanya dia
gak mau bikin ibu khawatir. Jadi kalau dia masih bisa mandiri selesaikan
masalahnya dia gak pengen ibu tahu dulu…”

”…malu rasanya saya, mbak. Anak sulung saya lagi berjuang sendirian disana tapi ibu
gak bisa bantu apa-apa.”

Disitu Ibu
Warteg matanya berkaca-kaca dan di saat itu pula saya paham besarnya kekhawatiran
seorang ibu pada anaknya meskipun disana saya hanya melihat sebagai pihak
ketiga.

Saya tidak tahu cerita ini dinilai sedih atau
tidak. Itu relatif. Hanya saja bagi saya cerita
Ibu ini sesuatu hal yang baru karena  ini tidak saya temukan, atau mungkin
lebih tepatnya tidak ketahuan oleh saya secara nyata, berada di lingkungan saat
kemarin saya kuliah. Di lokasi yang sebenarnya sama dengan tempat saya dulu berada, tapi rupanya baru saya temukan justru saat saya sudah tidak disana. 

Saya percaya bahwa setiap
orang punya ceritanya masing-masing.

Saat sejumlah individu berada di satu
titik yang sama maka sebanyak itu pulalah sebenarnya jumlah cerita pencapaian yang ada.
Karena untuk sampai di titik yang sama, setiap orang memiliki jarak tempuh,
waktu dan kecepatan yang berbeda. 

Siapapun
yang sedang bersimpangan dengan kita saat ini, hargai mereka. Karena setiap
orang punya cerita perjuangannya masing-masing. Rugi kalau kita ga belajar
darisana. We don’t meet people by accident, they are meant to cross our paths for a reason.

Dan bagi yang sedang merasa kesusahan dengan yang dijalani saat ini, jangan menyerah dulu! Percayalah bahwa di titik yang sama yang sedang kita injak ini, diantara sekian banyak orang yang sedang bersimpangan dengan kita, ada orang-orang yang sudah berjuang lebih keras dan lama, yang sebenarnya lebih berhak untuk menerima tawaran menyerah tetapi memilih untuk bilang tidak.

Dari sebuah
obrolan ngalor ngidul di warteg hari ini saya dapat pelajaran.

Be thankful for what you have, work hard for
what you don’t have.

Jakarta, 26
Oktober 2017

Yang hampir menyerah tapi untunglah ketemu Ibu Warteg

Zia Husnia

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai