Sabtu lalu saya mengikuti sebuah acara capacity building yang diselenggarakan oleh lembaga tempat saya
bekerja, Dompet Dhuafa. Pada kesempatan kali ini hadir Bapak Erie Sudewo (Pendiri Dompet Dhuafa) sebagai pembicara. Dari sekian banyak inspirasi yang saya peroleh dari beliau, inilah
kisah yang paling meninggalkan bekas
di hati.“Pak Erie, saya punya ibu hebat sekali. Saya kagum dengan
beliau” kata seorang anak muda.Semua orang pun
begitu, kagum dengan ibunya. Apa istimewanya? kata Pak Erie dalam hati.Pak Erie tidak menjawab apa-apa, namun mempersilahkan si
anak muda menceritakan ibunya yang ia sebut hebat itu.“Pak, Ayah saya keterbelakangan mental. Adik dan Kakak saya
juga. Cuma saya yang normal.”Hmm, ini mulai menarik.
“Wah, lalu?” Pak Erie mulai tertarik dengan cerita kehebatan
Ibu dari si anak muda.“Dulu, kakek saya menjodohkan Ayah dengan Ibu. Demi
menghargai pilihan orangtua, Ibu saya menerima. Sampai hari ini, Ibu saya
merawat Ayah. Merawat kami sekeluarga. Tak pernah sekalipun saya dengar Ibu
mengeluh. Dan saya baru menyadari sekarang ketika saya akan menikah, betapa hebat Ibu saya…..”“Benar. Ibumu benar hebat. Insyaa Allah ganjaran beliau adalah
surga” Kata Pak Erie takjub.Di kursi tempat saya duduk dan mendengarkan Pak Erie, saya pun tertegun. Merinding dibuatnya.
***
Siapa sih yang tidak menginginkan pasangan hidup yang ideal?
yang memiliki pemahaman agama yang baik,
yang wajahnya tampan/cantik,
yang nyambung
ketika membicarakan banyak hal.yang sama-sama saling mencintai.
yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan.
Ah, ini terlihat sempurna ya. Ladang amal nampaknya bisa kapan saja dituai. Surga juga rasanya jadi tampak
lebih mudah diraih.Tapi Allah memang Maha Besar. Diciptakannya ketidaksempurnaan dalam bentuk lain sebagai ladang amal bagi siapa saja yang mau bersabar. Sehingga dari sabarnya
itulah Allah akan menghadiahkan rahmat-Nya. Karena siapapun juga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh ridho-Nya.Dalam kasus Ibu yang diceritakan di atas, ia tentu punya
pilihan untuk tidak menikah dengan suaminya. Menolaknya dengan alasan yang
bahkan diperbolehkan secara agama. Tapi ia memilih suaminya, tanpa syarat. Ia bersabar karena yakin, bahwa suaminya adalah ladang baginya untuk beramal.Jadi, untuk kita yang masih dalam tahap memilih pasangan
hidup, pilihlah sebaik-baiknya. Tentukan dengan mantap, karena hanya kitalah yang tahu kemampuan dan batasan diri kita. Jangan takut akan menyesal, jangan takut menatap kedepan. Minta kepada Allah, agar selalu diteguhkan
dalam iman dan dilancarkan dalam setiap ujian. Karena setiap orang toh akan menemui masalah dan ladang amalnya masing-masing.“Pernikahan yang
dengan cinta, kemudian bertahan, itu biasa. Pernikahan yang tanpa cinta,
kemudian BERTAHAN, itu baru luar biasa” –Erie
Sudewo.
jadi inget bapak ibuk, sabar dan sayang banget sama adekku yang terspesial 💕