boleh dibilang, angkatan-angkatan pertama smk wikrama yang didirikan ayah dan ibu terdiri dari siswa-siswa yang dhuafa. kebanyakan dari mereka adalah anak-anak pedagang asongan atau penjaga villa, supir angkot paling keren. saking dhuafanya, mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. bukan pemandangan yang aneh jika saat upacara satu per satu siswa pingsan. inilah yang kemudian mendorong lahirnya program makan roti, telur, dan minum susu gratis di sekolah.
boleh dibilang, berkecimpung dalam dunia pendidikan yang memang benar-benar bercita-cita untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan membuat ayah dan ibu sangat dekat dengan mereka yang hidupnya serba kurang. alhasil, ayah dan ibu selalu mendidik kami anak-anaknya tentang kesederhanaan. pernah kami mendapati ibu menekuk wajah saat kami makan di restoran all you can eat. kata ibu, ibu teringat dengan siswa-siswanya yang tidak bisa makan karena tidak ada uang. makanan yang melimpah ruah itu tak terasa nikmatnya.
pernah suatu hari ayah dan ibu membeli sedan yang lumayan bagus. maksudnya sih, supaya lebih nyaman setiap harus melakukan perjalanan–berhubung keduanya sering berkeliling ke sana sini. tidak bertahan lama, akhirnya mobil tersebut dijual lagi, diganti dengan city car yang jauh lebih sederhana. kata ibu, apa enaknya naik mobil keren lalu saat masuk gang sekolah yang lebarnya hanya sebadan mobil dilihat oleh warga? tidak enak menunjukkan kita punya, yaitu saat banyak yang tidak, saat banyak yang masih kekurangan.
setiap mengingat ayah dan ibu, saya seringkali merasa malu. betapa diri saya sangat jauh dari sifat hemat, betapa kesederhanaan saya selama ini hanyalah karena keadaan. ketika sudah punya sedikit lebih, keinginan saya pun terus bertambah, bahkan berkali-kali lipat. apalagi sejak punya mbak yuna, rasanya saya selalu ingin memberikan yang terbaik–termasuk dalam materi.
padahal, dulu semasa saya kecil, ayah dan ibu sangat menahan nafsu untuk memenuhi keinginan diri dan keluarga sendiri. apa yang lebih diperuntukkan bagi sekolah, bagi orang banyak. kami saja baru menempati rumah sendiri pada tahun 2008, 22 tahun sejak ayah dan ibu menikah.
mungkin, jawabannya adalah karena saya jauh dari mereka yang serba kurang, karena yang saya lihat setiap hari (di media sosial) adalah teman-teman kelas menengah yang hobi jalan-jalan, makan-makan, punya penghasilan besar, punya ini dan itu. saya pun ikut-ikut ingin menjadi wah. padahal, di sekitar kita, dekat dengan kita, banyak yang memerlukan bantuan.
tulisan ini adalah renungan bagi diri sendiri agar saya senantiasa memilih yang baik, membelanjakan uang pada yang baik. apakah baju anak seharga 250 ribu itu perlu ataukah saya hanya menginginkannya? uang yang sama, kalau dibelikan susu formula untuk anak susuan saya, bisa dipakai sampai sebulan. apakah ikut mas yunus konferensi sekalian jalan-jalan itu perlu atau saya hanya menginginkannya? tiket plus akomodasi, kalau dibayarkan untuk kursus yang saya ambil, bisa membeasiswai satu orang.
selalu ada manfaat yang hilang setiap kita membuat sebuah keputusan. tugas kita adalah memastikan bahwa manfaat yang hilang tersebut bukanlah yang lebih perlu, yang lebih penting, atau yang lebih genting.
tulisan ini sekaligus renungan dan ajakan untuk mengganti wajah media sosial kita, karena tanpa sadar, yang kita tampilkan adalah berita dan ajakan untuk menjadi seperti diri kita.
don’t merely show what you eat, where you go, things you own. show your kindness, spread it. show your work, be proud of them. show your ideas, share them. show humanity. show flaws. show modesty.
kesederhanaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memiliki yang kita inginkan, namun memilih hanya yang kita perlukan. kesederhanaan yang sesungguhnya adalah kesadaran bahwa yang berlebihan itu tidak perlu sama sekali–sebab sejatinya kita tidak memiliki apa-apa sama sekali. bukankah semuanya hanyalah titipan yang harus dikembalikan kapan saja diminta?
masih terus belajar tentang si ‘sederhana’ ini, karena makin ke sini, semakin mudah kita tergoda ini itu, kudu hati-hati *pake banget. liat sosmed dikit, jadi pengen ini pengen itu *naluricewek hehehe.
padahal kan Rasulullah SAW mencontohkan hidup dalam kesederhanaan melalui sosoknya yang berkepribadian sederhana, walaupun beliau memiliki kekuasaan yang besar.
#selfreminder