Saya selalu suka belajar dari orang lain. Entah itu dari mendengar ceritanya, memperhatikan apa yang dilakukannya, membaca apa yang menjadi pola pikirnya melalui tulisan-tulisannya, atau apapun. Alhamdulillah, Tabaarakallahu, sejak beberapa bulan terakhir Allah ternyata mengizinkan saya untuk belajar banyak hal dari kerabat terdekat: tetangga depan rumah.
Baru beberapa bulan saja saya mengenal seorang Ibu dan keluarganya di rumah itu. Setiap hari mereka tinggal berempat: seorang Ibu yang keshalihannya terpancar dari wajahnya, seorang Bapak yang ketegarannya terlihat dari sikapnya, serta dua orang anak yang masih kecil-kecil dan sedang menghafalkan Al-Qur’an. Dari segi ekonomi, mereka memang kurang berkecukupan, tapi, Maa syaa Allah, saya seolah melihat potret keluarga muslim yang utuh dari mereka. Bahagia rasanya, saya merasa memiliki keluarga baru sebagai tempat berbagi apa saja.
Minggu depan, anak sulung mereka akan mengikuti lomba Hafidz Qur’an. Terharu sekali ketika mendengar Ibunya berkata, “Kakak, engga usah kepengen piala, ya! Ini buat pengalaman, biar kakak semangat terus belajarnya. Nanti biar Allah aja yang kasih piala buat kakak.” Merinding! Di saat orangtua lain mungkin sedang memotivasi anaknya untuk mengumpulkan piala, Ibu ini memotivasi anaknya untuk mengejar hadiah dari Allah, hadiah yang tidak akan setara dengan piala-piala dunia.
Ibu dan Bapak di keluarga itu adeeeeem sekali ketika dilihat. Kata-katanya santun, cara berpakaiannya sederhana, dan sikapnya pada hidup-jika saya lihat dari bagaimana cerita-cerita yang diungkapkan-juga sangat bijaksana. Ternyata, selidik punya selidik, sikap tersebut hadir dari kelapangan hati mereka untuk berserah kepada Allah bagaimana pun keadaannya. Sampai suatu hari saya pernah bercerita pada Ibu saya, “Seneng banget ya ngeliat mereka. Adeeeem banget. Shalih-shalihah, ya Allah. Kayaknya hidupnya mau diapain aja sama Allah juga tetep taat. Lha aku? Ya Allah, banyak banget ngeluhnya!”
Ditakdirkan Allah bertetangga dengan mereka ternyata membuat saya merasa seperti memiliki cermin terdekat! Ya, cermin terdekat yang selalu berhasil membuat saya berkaca akan banyak hal. Apa kabar keimanan saya? Apa kabar semangat menuntut ilmu saya? Apa kabar hafalan saya? Apa kabar kegigihan saya dalam ikhlas dan bersabar terhadap keadaan? Apa kabar hati saya dalam menerima ketetapan Allah? Ah, saya mau nangis! Ya Allah, mohon ampun atas semua kekurangan, kesalahan, dan tidak tahu dirinya saya.
Coba cek sekitarmu, adakah orang(-orang) yang ternyata menjadi cermin terdekatmu? Let’s look into yourself!
______
Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 – Let’s Look Into Yourself!”