saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.
saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?
mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.
“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”
kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.
tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat
untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan;
untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang;
untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.
ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.
ini jadi pr bagi kami juga—para mahasiswa—terutama yang akan lulus dari kampus mereka. apa artinya semua ilmu yang tinggi jika nantinya tak memiliki manfaat untuk ummat sama sekali?
padahal pada akhirnya nanti, salah satu pahala yg tidak akan terputus setelah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
sepertinya kita harus bertanya kembali, apa sih yang sebenarnya kita cari di dunia ini?