Diminta dengan baik

kikyamci:

Nb : tulisan ini hasil kontemplasi yang sayang jika tidak diabadikan wkwk

Diawali dari ketidakrelaan saya saat mendengar kabar bahwa salah satu teman dekat saya sudah didekati sama “ehem ehem”. Rasanya ingin saya labrak si ehem itu dan bilang jangan gangguin temanku, dia perempuan baik-baik dan terlalu baik untuk hal seperti itu. Well well, tapi saya sadar kalau masalah ini tak se-simple itu.

Jeng jeng, inilah permasalahan sejuta remaja 😂. Hal yang menjadi alasan terciptanya hawa juga menyebabkan pembunuhan pertama dalam sejarah, yaa pembunuhan qabil atas habil. Fitrah itulah yang menjadikan jalan favorit bagi para setan untuk menggoda manusia. Menjelmakannya menjadi fitnah dimana-mana, seperti kisah zulaikha dan nabi yusuf a.s.

Sejatinya, perempuan adalah ketegasan yang dibungkus kelembutan. So, yang mereka inginkan adalah kepastian dan pengakuan. Hanya saja kebanyakan mereka terlalu malu mengungkapkan, apalagi jika bertemu laki-laki yang tidak benar-benar siap. Maka jadilah hubungan yang tak jelas muaranya.

Sebenarnya, puncak dari segala rasa adalah pernikahan. Pernikahan adalah salah satu perjanjian terkuat dan sakral. Perjanjian yang mengguncangkan Arsy-Nya. Perjanjian yang menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram. Perjanjian yang tidak hanya disaksikan manusia-manusia, tapi para malaikat yang ikut mengaminkan segala keberkahan atas nama pernikahan. Perihal siapa yang akan membersamai, menjadi penyempurna agama, juga pengisi kelemahan diri untuk mampu menebar kebaikan lebih banyak lagi juga telah ditetapkan.

Jodoh itu pasti, cara menjemputnya yang ujian. Beda cara beda pula keberkahannya.

Katanya nih, setelah pernikahan ada yang lebih penting dari sekadar rasa. Namanya tanggungjawab. Bagaimana mengkolaborasikan peran-peran untuk saling mengisi dan menyeimbangi. Seperti kisahnya sayyidah khadijah yang setia mendampingi Rasulullah melewati masa-masa sulitnya berdakwah, menenangkan beliau saat malaikat jibril selesai mengantarkan wahyu, mempercayai beliau saat orang-orang mendustai, membesarkan hati beliau saat orang-orang memaki dan memalingkan muka. Dan tanggungjawab yang disadari itulah yang menumbuhkan kecintaan yang besar tidak hanya dari Rasulullah, tapi juga Allah dan para penduduk langit.

Jadi intinya, saya akan menganalisis dari sudut pandang perempuan (cieeelah). Saya meyakini bahwa setiap perempuan ingin diminta dengan cara yang baik, diperjuangkan di jalan yang benar, dan dijemput di pintu yang tepat. Hanya saja, kelembutan perempuan sering kali mengalahkan prinsip-prinsipnya. Terlalu mengalah pada rasa yang tak tau akan dibawa kemana hingga rela diombang-ambing dalam ketidakpastian.

Jika perempuan sudah melabuhkan kepercayaannya, maka ia dapat melakukan apa saja bahkan diluar logika sekalipun. Seperti apa yang telah dilakukan ibunda khadijah yang membuat beliau begitu istimewa di hati Rasulullah. Namun, jika kepercayaan itu dilabuhkan disaat yang tidak tepat, maka timbullah permasalahan yang bikin geleng-geleng kepala.

Baiknya, apa-apa yang menjadi fitrah dijaga dengan semestinya. Agar para setan kehilangan akal untuk mengajak bergelimang dosa. Karena, kita akan terus diuji pada hal yang sama jika kita tidak mampu lulus dari ujian itu. Persis saat ujian di sekolah, akan terus remedial pada materi yang sama, sampai lulus atau “diluluskan”.

Maka jangan dulu datang jika tidak benar-benar siap. Jangan coba membuka celah hati perempuan jika tidak benar-benar yakin. Karena hatinya perempuan itu sulit berpaling. Karena kebanyakan rasa mengalahkan prinsip. Dan bagi yang mencoba memegang prinsip diatas rasa, bukan berarti mereka tak merasa.

Jadi yaaa, persoalan riweh ini baiknya disimple-kan saja. Silakan menyendiri dalam keimanan dan datang dengan kesiapan. Bagi para pemilik kelembutan, silakan dijaga atau diutarakan jika memang berani dan yakin. Karena yang berkah yang akan membuat bahagia senantiasa tercurah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai