Mempelajari Kerelaan

novieocktavia:

Sejak kecil, saya suka sekali boneka. Tak heran jika dulu banyak sekali boneka di rumah, dari mulai yang besar sampai bisa saya duduki hingga yang kecil. Hampir semua boneka adalah hadiah dari ayah. Maka, memori tentang boneka hampir selalu menyertakan ayah di dalamnya.

Ketika saya mulai besar, satu per satu boneka berpindah tangan ke adik-adik sepupu karena kata Ibu saya sudah terlalu besar untuk bermain boneka lagi. Saat itu, saya sedih boneka saya diambil dan saya jadi marah pada Ibu karena merasa kehilangan, “Itu kan dikasih sama Ayah, bisa dipeluk-peluk kalau lagi kangen Ayah, kenapa dikasih ke orang?” Saya tidak rela.

Lama-kelamaan, saya mendewasa dan entah mengapa refleks mulai menggeser boneka dari list prioritas. Tadi malam, ketika saya baru saja pulang selepas pergi ke luar kota, Ibu bilang, “Dek, tadi adik yang di depan rumah itu main kesini. Terus, dia suka sama boneka kecil yang di atas TV, ya udah Ibu kasihin aja dua-duanya. Dia senang banget!” Lalu dengan santainya saya menjawab, “Iya Bu, engga apa-apa. Boleh, kasih aja.”

Ternyata saya tidak marah ketika boneka saya dipindah-tangankan ke orang lain, “Ya sudah, boneka itu sekarang bukan milik saya lagi.” Berbeda dengan dulu saat masih menanggapi hal-hal seperti ini dengan marah dan sedih.

Ternyata, untuk hal-hal penting yang ada di hidup kita, kita butuh waktu untuk mempelajari kerelaan. Beruntungnya, dinamika hidup mampu mengajarkannya untuk kita.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai