Telepon di siang bolong

Pada suatu siang bolong yang terik, di dalam kamar ditemenin kipas angin yang sibuk ngipasin.
Tiba-tiba hape nyala, ada telefon dari nomer asing …….

Me : Halo…
Mbaknya : halo selamat siang, apa benar ini dengan Annisa ? (Duh, ini suaranya mbaknya lembut banget, mulai muncul rasa penasaran)
Me : iya benar, ini siapa ya?
Mbaknya: kami dari IDP. Nama anda terdaftar di database kami sebagai yang berminat melanjutkan studi ke Australi. Apa benar?
Me : iya benar. Kenapa ya mbak? (Rasa penasaran ini semakin membuncah #tsaah)
Mbak : apakah anda masih berminat ? Atau sudah melanjutkan studi?
Me : emm, maaf mbak, saya sedang menempuk studi S 1. (Jawaban spontan, duh getir jawabnya).
Mbaknya: oh yasudah. Terimakasih. Selamat siang.

Abis itu langsung bengong. Nampar pipi sendiri. Berkelebatlah gimana dulu ngebet pengen kuliah ke luar negeri. Inget waktu ngisi form IDP itu iseng-iseng. Dan tadi, malah ditolak mentah-mentah??! Niceek niceek. What you’ve done?!! Sumpah, ini nyesel banget kenapa tadi nggak nanya2 dulu sama si mbaknya.

Abis itu ngambil hape, nelfon balik mbaknya, wkwk (Ini udah ngebayangin ditawarin kuliah gratis di luar negeri, XD) abis itu…..syalalaa~
Setidaknya abis telfon balik jadi nggak penasaran lagi :“

"Jalan masih panjang, nak! Brace yourself! Tetep pegang impian itu” :“

Atheist: Can your Lord fit the entire universe into an egg without making the egg any bigger and the universe any smaller?

Jafar as Sadiq: I would like you to look at the sky, and at that bird in the sky, and at that tree, and at all those people who have gathered around us and now look at me.

Atheist: I see them all.

Jafar as Sadiq: If Allah can fit all of those things inside the tiny pupil of your eye, do you think that he cannot fit the universe into an egg?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai