Selesai

urfa-qurrota-ainy:

Jika kau merasa iri saat melihat foto temanmu yang baru promosi jabatan, atau menikah, atau punya anak, atau jalan-jalan ke luar negeri, atau punya mobil baru, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu?  Apakah ia menggunakan sepeser uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kau kira ia riya’, kau anggap dia pencitraan, kau bilang ia pamer.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika kau merasa marah saat orang lain berbeda pendapat denganmu, memilih pilihan yang berlainan denganmu, yang patut dimarahi bukan dia. Apakah ia menghalangimu untuk berpendapat? Apakah ia memaksamu mengikuti pilihannya? Jangan menambah kotor hati dengan menciptakan jarak kebencian dengannya. Kau labeli ia sebagai musuh, kau sebut ia bukan saudara.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai toleransi.

Jika kau merasa kecewa saat tidak ada yang memuji amalmu, menghargai kebaikanmu, yang menurutmu sudah benar, yang salah bukan mereka. Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan. 

Semakin ku merenungi, semakin aku menyadari. Bahwa kebanyakan–hampir seluruhnya–dari penyakit hati, sumbernya adalah masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Belum bisa meredakan ‘keakuan.’ Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si ‘aku’ menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus didahulukan, yang harus diistimewakan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, padahal rapuh di dalamnya.

Maha Suci Allah, yang suci dari kelemahan hamba-Nya.

Pesan ini pertama sekali kutujukan untuk diriku sendiri

:“”

Alhamdulillah punya sahabat seperti mereka. Thank you so much to the moon and never back :*

Terima kasih kejutannya *beneran kaget kalo ini XD*. Makasih doanya, hadiahnya, semua-muanya.

Semoga cita dan doa kita terwujud dan semoga kelak bisa memberi yang terbaik untuk ayah ibu. Semangaat, InsyaAllah tahun depan kita wisuda bareng-bareng! 🙂

Rumah Baca #4

Bersama 6 orang anak yang dateng sore-sore ke kos dengan mencet bel dan manggil “Kak Ummaah!” seperti biasa. Baca bukunya cuman bentar, abis itu mereka udah rame aja. Baru ngajarin Amel baca bentar (kiri atas) udah pada rame akhirnya lanjut bikin gantungan pintu dari gelas plastik bekas. Pas tengah-tengahnya bikin gantungan, si Qory udah rame minta jambu tetangga yang bisa dipetik dari kosan ini XD.

Next time abis UAS kita ketemu lagi. Katanya mau diajarin matematika. Hmmm boleh juga ^^

Do’a

ajinurafifah:

Aku selalu percaya dengan kekuatan doa, mendoakan, dan didoakan. Betapa Allah memfasilitasi keinginan hambaNya lewat do’a.

Setelah ikhtiar panjang, do’alah yang membuat kita terus percaya. Bahwa pinta ini selalu didengar, bahwa usaha takpernah sia-sia. Pun jika apa yang kita pinta tidak dikabulkan, setidaknya do’a menjadikan obat bagi hati kita–penawar tinggi hati manusia-manusia yang merasa serba bisa.

Do’a membuat kita mengaku, bahwa…tanpaNya, kita benar-benar tak bisa apa-apa.

Rumah Baca #3

Kali ini dengan 4 orang adek yang berbeda. Sekitar satu jam sebelum saya berangkat kuliah tiba-tiba ada yang mencet bel. Ternyata Aila, Ica, Risya dan Rahma dateng tiba-tiba tanpa janjian dulu. Akhirnya mereka cuman sebentar baca buku, abis itu bikin origami seperti pertemuan sebelumnya soalnya mereka nggak dateng waktu ketemuan sebelumnya. Ayeey, alhamdulillah bisa ketemu lagi sama adek-adek unyu

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai