Tidak pernah terpikir dulu jika suatu hari nanti akan berada di sekolah calon statistisi ini. Bersyukur bisa ada di sini. Padahal dulu cita-citanya jauh banget dari bau-bau statistika. Dan sekarang masih terus berusaha untuk bisa bener-bener bisa mengaplikasikan ilmu yang asing bagi sebagian besar masyarakat ini. Dedikasi untuk bangsa? Inovasi untuk dunia perstatistikan? Rasanya masih jauh dari itu, tapi InsyaAllah on my way (Amiiin, bantu amiin-kan juga boleh).

Kalau kata Google’s Chief Economist di New York Times, “I keep saying that the sexy job in the next 10 years will be statisticians. And I’m not kidding”

[Buka Bersama, Jamaah Maghrib, dan Takbiran Musholla Al-Islam]

Sore tanggal 9 Dzulhijah kemaren, musholla Al-Islam tampak lebih ramai dari biasanya. Mulai dari anak-anak sampai simbah-simbah kumpul untuk buka bareng dan takbiran.

Dulu pas masih di Jakarta, Ibu sering cerita gimana proses renovasi musholla ini. Mulai dari Bapak dan tetangga-tetangga ngumpulin dana lalu merenovasi, sampai Ibu mengajukan proposal bantuan Al-Qur’an dan perbaikan arah kiblat ke Kemenag.

Dulu musholla ini cuman dipake taraweh pas Ramadhan. Waktu simbah kakung masih sehat, inget banget dulu beliau selalu membaca Surat At-Taubah saat jadi imam.

Sekarang, alhamdulillah Musholla Al-Ikhlas makin bersih, cerah, dan makin cantik ❤ . Selalu dipakai buat Jamaah Maghrib dan Isya anak-anak sampai simbah-simbah.

Feels like …… jarang banget nemu kekeluargaan masyarakat kayak gini di Jakarta 😄

Homeeeyy :)) 🍃🏡

Mabeyan, 12 Dzulhijah 1437 H.

Cinta dan Kesabaran Dzun Nurain

fatihfatah:

Beliau
memiliki garis keturunan yang bertemu dengan Rasulullah SAW di kakek keempat,
Abdu Manaf, sebagaimana ia bertemu dengan garis keturunan dari pihak ibu
Rasulullah di kakek keempat ini. Ibunya adalah Arwi binti Kuraiz. Adapun ibu
Arwi adalah Al – Baidha binti Abdul Muthalib, Bibi dari Rasulullah SAW.

Diriwayatkan oelh Ibnu Asakir bahwa wajahnya tampan
dan putih kemerahan, postur tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek, jenggotnya
tebal, tulang sendinya besar, pundaknya lebar, gempal betisnya, tangannya
panjang dan penuh bulu. Rambutnya ikal, gigi depannya indah, rambut kepala menutupi
telinga. Abdul Rahman ibn Hazm pun berkata “Saya tidak pernah melihat seorang
manusia yg memiliki keindahan wajah seelok Utsman”.

Dari latar belakang keluarga, ia adalah orang yang
terpandang dan bangsawan kaumnya. Hartanya melimpah karena kecakapannya dalam
berbisnis. Ketampanannya memikat para gadis – gadis. Sifat pemalu, kedermawanan
dan akhlaknya semakin membuat Utsman “disayang” oleh kaumnya bahkan ibu-ibu
Quraisy berdoa untuk anak – anak mereka “semoga Dzat Yang Maha Pengasih
menyayangimu seperti cintanya kaum Quraisy terhadap Utsman.”

Dengan segala kesempurnaan dan kebahagiaan hidupnya
yang bisa kita bayangkan, apakah Utsman hidupnya hanya penuh dengan nikmat dan
tidak pernah diuji? Bahkan sampai akhir hayatnya pun kita temui Utsman lebih
banyak diuji karena Allah sangat cinta terhadap Utsman. Dengan perasaan yang
sangat lembut, rasa malu yang tinggi, hati yang jernih apakah Utsman menjadi
insan yang berputus asa dan cengeng ketika bentuk cinta dari Allah berupa ujian
datang bahkan sampai akhir hayatnya?

1. Patah
Hati

Pada masa Jahiliyah, Utsman pernah patah
hati. Ia mendengar kabar bahwa Muhammad bin Abdullah (saat itu beliau belum
diangkat menjadi Rasulullah) menikahkan putrinya, Ruqayyah dengan anak paman
Muhammad bin Abdullah, Utbah bin Abi Lahab. Penyesalan juga datang karena dia
didahului orang lain dalam meminang Ruqayyah dan merasa tidak beruntung  karena tidak bisa memperoleh akhlak Ruqayyah
yang luhur dan garis keturunannya yang mulia.

Lemas mendengar kabar tersebut, Utsman
menemui keluarganya dengan lara dan duka. Hatta, setelah beberapa waktu,  Sa’id binti Kuraiz (bibi Utsman), seorang
wanita yang teguh dan cerdik menyampaikan kabar gembira lain padanya. Dan kabar
tersebut mengenai kedatangan seorang Rasul yang melarang penyembahan berhala
dan menyeru untuk menyembah Dzat Yang Maha Esa (Tauhid). Bibinya menyarankan
agar ia memeluk agama ini dan sambil menghibur dirinya bahwa ia akan
mendapatkan apa yang diinginkannya dalam diri Rasul tersebut. Kabar ini
menggembirakan sekaligus menjadi beban pikiran Utsman. Sehingga setelah itu ia
keluar dari rumah sambil memikirkan perkataan bibinya tersebut bertemulah ia
dengan Abu Bakar RA, ia ceritakan apa yang terjadi dan apa yang bibinya
sampaikan.

Lantas Abu Bakar berkata  “Demi Allah, bibimu benar atas apa yang
disampaikan kepadamu, dan ia telah menyampaikan kabar gembira dengan kebaikan
kepadamu, wahai Utsman. Sesungguhnya engkau lelaki cerdik dan bijak, kebenaran
tidak tersembunyi darimu dan kebatilan tidak menjadi samar dihadapanmu.”

Kemudian, Abu Bakar RA mengajak Utsman
menemui Rasulullah dan saat itu juga Utsman bin Affan memeluk agama Islam.

Sekali,
dalam kehilangan cintanya terganti dengan ia menemukan cinta yang sejati.

2. Redupnya
Cahaya dan Perginya Sang Buah Hati

Beberapa waktu berselang setelah Utsman
masuk Islam, Utsman mendengar kabar bahwa Utbah bin Abi Lahab telah menceraikan
Ruqayyah binti Rasulullah SAW karena tidak suka terhadap Rasulullah SAW dan
Islam. Pucuk dicinta ulam tiba, Utsman merasa gembira dan segera menuju
Rasulullah untuk meminang Ruqayyah. Kemudian Rasulullah menikahkan Ruqayyah
dengan Utsman bin Affan. Perpaduan cinta suci tersebut semakin lengkap kala
Allah SWT menganugrahkan mereka seorang anak laki – laki bernama Abdullah bin
Utsman. Keluarga mereka sakinnah mawaddah dan warrahmah. Sampai ditengah
kebahagiaan tersebut, datanglah seruan untuk berjihad di perang Badar. Apa yang
terjadi kemudian adalah Ruqayyah jatuh sakit sehari sebelum terjadinya perang
Badar, ia terserang demam. Keimanan Utsman yang begitu tinggi membuat ia tetap
bertekad berangkat ke medan perang, namun Rasulullah meminta Utsman untuk tetap
di Madinah merawat Ruqayyah dan tidak ikut berperang dan pada akhirnya Utsman
menurut.

Keesokan harinya Zaid bin Harisah membawa
kabar kemenangan kaum muslimin pada pertempuran Badar. Seluruh kaum muslimin
larut dalam kebahagiaan pada hari tersebut kecuali Utsman. Ruqayyah kembali
pada Rabb-nya pada hari itu . Bisa kita bayangkan? Ketika semua orang
berbahagia pada hari itu dan sebagai seorang muslim maka Utsman ikut berbahagia
namun didalam hatinya teriris menangis karena labuhan cintanya telah pergi
menghadap Rabb-nya, meninggalkan ia dan anak semata wayangnya (Abdullah bin
Utsman) tepat dihari kemenangan itu. The
day of great joy and the day of great sadness
bagi Utsman.

Kemurnian cintanya kepada sang Khalik tak
lama diuji kembali setelah meninggalnya Ruqayyah. Suatu hari Abdullah bin
Utsman sedang berjalan dan seekor burung mematuknya tepat dibagian wajah. Luka
yang disebabkan patukan burung tersebut kemudian semakin parah dan terjadi
infeksi, tak lama berselang, Abdullah bin Utsman pun kembali pada Rabb-nya.

Kedua
kalinya, dia kehilangan cintanya dan tetap dalam kesabaran pada cinta sejatinya. 

3. Cahaya
kedua

Bagaimanapun dengan ujian berat yang
menimpa Utsman, sebagai seorang manusia terlebih dengan perasaanya yang sangat
halus maka ia merasa sangat sedih dan kehilangan. Dia kehilangan istri
tercintanya dan anak satu – satunya, begitu saja. Pahit, bagaimana Utsman harus
tetap keluar bertemu dengan orang banyak, tegar dalam segala bentuk kehilangan
ini. Bagaimanapun tidak ada sedikitpun ibadah Utsman yang menurun setelah Allah
SWT mengujinya. Ia tetap keluar dari rumah untuk menunaikan shalat berjamaah di
masjid Nabi, tidak pernah sekalipun Utsman meninggalkan sholat berjamaah di
masjid Nabi setelah kepergian istri dan anak semata wayangnya. 

Namun satu hal yang berubah dari Utsman
adalah dia menghindar untuk berkomunikasi dan bercakap – cakap dengan orang
lain dan para sahabatnya. Keadaan ini terus berlanjut sehingga Rasulullah pun
ikut merasa sedih dengan hal ini. Rasulullah ingin menunjukkan kepada Utsman,
betapa beliau mencintai Utsman. Sehingga Rasulullah pergi menemui Utsman dan
bertanya padanya perihal yang membuat Utsman begitu sedih dan tertekan. Jawaban
Utsman jelas, pertama adalah tentang kematian Ruqayyah namun ada lagi hal lain
yang membuatnya sangat sedih.

“Hubungan saya dengan Engkau, kekeluargaan
saya dengan Engkau terputus dengan kematiannya (Ruqayyah)”
jawab Utsman dengan
penuh kebenaran dan rasa cinta yang semurni – murninya.

Mungkin ada sebagian yang berpikir jawaban
Utsman adalah basa basi belaka, namun kesungguhan perkataan dan cinta Utsman
jelas terlihat dan dibenarkan dengan datangnya malaikat Jibril yang datang
kepada Rasulullah dengan perintah dari Allah SWT untuk menikahkan Ummu Kultsum binti
Rasulullah dengan Utsman. Subhanallah, dan disinilah Utsman mendapat julukan Dzun Nurain (pemilik dua cahaya).

6 tahun kemudian, Ummu Kultsum kembali
kepada Rabb-nya.

Ketiga
kalinya, dia kehilangan cintanya yang lain. Dan terus berjuang meraih cinta yang hakiki.

4. Kembalinya
Rasulullah SAW

Perginya Ummu Kultsum lagi – lagi membuat
Utsman sedih, namun Rasulullah begitu mencintai Utsman dan beliau tidak ingin
Utsman terus dalam kesedihan. Bahkan begitu besar cinta Rasulullah terhadap
Utsman maka Rasulullah berkata kepadanya

“Demi Allah! Jika aku memiliki 40 anak
perempuan, maka aku akan nikahkan mereka satu demi satu denganmu sampai satu
per satu dari mereka meninggal dan aku tidak memiliki anak perempuan lagi”.

Begitu besar cinta Rasulullah untuk Utsman
dan begitupula sebaliknya, sampai pada hari ketika Rasulullah meninggalkan
dunia yang fana ini, ketika Ummat Islam menangis dan gempar, Ummar mengacungkan
pedang sambil berteriak akan memotong kaki dan tangan orang yang berkata bahwa
Rasulullah meninggal, Utsman membisu. Ia sangat terpukul sampai orang – orang menyangka
ia menjadi bisu dan tidak bisa lagi berbicara karena pada saat itu Utsman benar
benar tidak berbicara sepatah katapun.

Dan kesekian kalinya, Utsman “dimurnikan” dan “diuji” cintanya. Menguatkan dan menyadarkan dirinya bahwa cinta utama hanya kepada Rabb pemilik semesta alam. Adapun cinta – cinta lain merupakan “kesenangan” jalan perjuangan hidup yang harus dilewati dan dijadikan supporting system untuk menggapai cinta dan keridohan sang Khalik. 

NB : Menjadi
renungan untuk kita dan saya pribadi, dengan segala ujian hidup ini. Apakah
kita akan seperti Utsman yang kehilangan cahaya dunianya namun tetap
mempertahankan cinta sejatinya kepada Rabb-nya. Tetap dalam kesabaran dan
keimanannya. Atau kita malah berbalik menyalahkan takdir yang dituliskan?
Membenci hidup ini dan menghancurkan iman sendiri dengan pikiran bahwa setelah
apa yang kita lakukan ternyata Allah SWT malah semakin memberi ujian bukan
kebahagiaan? May Allah guide us to the straight path, Amin.

Find. Discover beautiful places people don’t know.

Fly. Open your wings and break the boundary.

Go. Just go to the place you wanna go now. If it suites me, bring me there then 🙂

– My greatest pleasure to Bandung. Thank you very much, Bandung.-

Pic taken by gorgeous Ifatul Khasanah at Cihampelas Walk.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai